Gedung Perundingan Linggarjati, Situs Bersejarah yang Menyimpan Banyak Kenangan
Linggarjati yang terletak di selatan Cirebon, adalah kota kecil yang berada di kaki Gunung Ciremai. Disini terdapat sebuah rumah yang pernah menjadi tempat berlangsungnya perundingan yang menghasilkan Perjanjian Linggarjati antara Indonesia-Belanda pada tanggal 11-12 November 1946 yang sekarang dikenal sebagai Gedung Perundingan Linggarjati.

Museum atau Gedung Perundingan Linggarjati merupakan salah satu saksi sejarah tentang Indonesia yang mencintai kemerdekaan. Melalui sosok Bung Sjahrir serta kegigihan diplomasinya juga adalah bukti Indonesia yang mencintai damai. Sosok Bung Sjahrir dapat kita lihat dalam ungkapan R.Z. Leirissa (Syahrir the real/genuine diplomat), 'His idea of achieving sovereignty by peaceful means constituted a praiseworthy moral approach.

Meskipun yang ada pada ruang perundingan Linggarjati hanya ada perabot replika, namun itu cukup membantu pengunjung mendapatkan gambaran suasana pada saat itu.

Sejumlah foto dokumentasi seputar perundingan terlihat menghiasi dinding Ruang Perundingan Linggarjati. Yang diantara lain adalah foto wartawan mancanegara mengetik naskah berita di pagar tangga kediaman Bung Sjahrir di Linggasana. Menurut keterangan pemandu gedung, foto-foto tersebut diperoleh dari Kedutaan Belanda.


Fasilitas yang Ada Di Gedung Perundingan Linggarjati

Mengenai fasilitas, disini hanya ada toilet dan area parkir untuk pengunjung. Tidak ada fasilitas lagi yang memadai, seharusnya pengelola lebih meningkatkan fasilitas yang ada disini agar nantinya banyak pengujung yang lebih tertarik untuk datamg ke kawasan wisata sejarah ini.

Fasilitas yang lainnya adalah dengan adanya replika yang menunjukkan benda-benda yang ada pada ma perundingan lingarjati dilaksanakan. Meskipun hanya replika, namun banyak sekali pengunjung yang merasa berada pada zaman ketika perjanjian tersebut sedang berlangsung. Replika dibuat semirip mungkin dengan yang asli.

Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati

Pada awalnya gedung perundingan Linggarjati merupakan sebuah bangunan gubuk milik Ibu Jasitem yang berdiri pada tahun 1918. Kemudian berkembang dan berganti kepemilikan sampai digunakan sebagai gedung perundingan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Lokasi yang terletak di kaki gunung Ciremai dengan udara yang segar menjadikan rumah ini cocok untuk dibuat sebagai lokasi peristirahatan dan hotel. Pada tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem. Kemudian pada tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.

Di tahun 1930 dibangunlah menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal bagi keluarga Van Os. Lalu di tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.

Dan ketika tahun 1942 Jepang mulai menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan. Kemudian setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, maka hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

Tahun 1946 di dalam gedung ini terjadi peristiwa bersejarah bagi Indonesia yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda. Perundingan tersebut yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati. Lalu di tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan dan dibangun museum memorial yang berdiri sampai sekarang.

Lalu pada tahun 1948 sampai tahun 1950 semenjak berlangsungnya agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda. Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini kemudian ditempati oleh SDN linggarjati.

Kemudian di tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, namun usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk SDN Linggarjati saja.

Hunting Foto di Gedung Perundingan Linggarjati

Jika anda pecinta fotografi sekaligus pecinta wisata sejarah, maka anda diperbolehkan untuk memotret benda yang ada di dalam gedung tersebut. Dalam gedung perundingan linggarjati terdapat banyak replika yang dapat membawa kita pada masa lalu.

Jadi jangan biarkan anda kehilangan momen yang bagus ketika mengunjungi gedung bersejarah ini. Anda juga dapat berfoto selfie dengan latar belakang replika-replika tersebut.


Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Gedung Perundingan Linggarjati

Tidak perlu merogoh kocek yang dalam untuk pengunjung yang ingin berkunjung ke wisata sejarah satu ini. Anda hanya akan dikenakan tarif sebesar Rp. 3.000,- per orang. Hanya dengan membayar biaya tersebut, anda bisa puas berkeliling dan memahami tentang sejarah. Jam bukanya pada hari Senin-Jumat mulai pukul 07.00-15.00 WIB. Dan untuk Sabtu-Minggu adalah 08.00-17.00 WIB.

Akses Lokasi Menuju Gedung Perundingan Linggarjati

Anda dapat menggunakan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi agar sampai ke lokasi. Jika menggunakan kendaraan umum, maka anda bisa menggunakan yang akan ditujukan berikut ini.

  • Dari terminal bus Cirebon, naiklah kendaraan umum dengan jurusan Kuningan yang dikenakan tarif sebesar Rp 8.000,-. Kemudian turun di Cilimus, Jawa Barat dan dilanjutkan angkutan desa Cilimus-Linggajati Rp 3.000,-.

Disana anda akan menemukan sebuah gedung dengan bertuliskan "Gedung Perundingan Linggarjati". Jadi tidak susah untuk dapat mengakses salah satu situs sejarah yang ada di Kuningan.

Tips Ketika Berlibur ke Gedung Perundingan Linggarjati

Anda tidak memerlukan persiapan yang khusus untuk berkunjung ke sini. Cukup dengan mematuhi peraturan yang ada dan jangan sampai memecahkan atau mengambil sesuatu dari musem. Sebaiknya berlaku sopan juga terhadap para pengunjung yang lainnya.

Demikianlah artikel tentang Gedung Perundingan Linggarjati yang dapat menambah wawasan anda. Gedung ini merupakan situs sejarah bagi bangsa Indonesia, oleh karena itu lestarikanlah dan jangan lupa untuk belajar tentang sejarah. Anda juga dapat menjadikan gedung ini sebagai wisata edukasi untuk anak. Selamat berlibur dan selamat belajar sejarah.

Artikel Terkait